FILOSOFI PENDIDIKAN MATEMATIKA

 TUGAS 6

Ulfah Aulia Dewi Yanti

Pendidikan Matematika S1 2017, Universitas Negeri Yogyakarta
Dosen pengampu: Prof. Dr. Marsigit , M.A

FILOSOFI PENDIDIKAN MATEMATIKA

Dalam “Philosophical, Ideology, And Theoretical Ground Of Mathematics Education” dan juga “Philosophy of Mathematics Education Syllabus”  yang disusun oleh Prof. Dr. Marsigit terdapat 16 kegiatan filsafat pendidikan matematika yang pembagian atau kriterianya diadaptasi secara kreatif dan dinamis dari buku karya Paul Ernest berjudul “ The Philosophy of Mathematics Education”. Berikut rincian dari masing – masing aktivitas atau kegiatan :

1.      Ideologi Pendidikan

Ideologi didefinisikan sebagai satu aturan yang bertautan luas antara ideide dan keyakinan tentang dunia yang diselenggarakan oleh sekelompok orang yang menunjukkan perilaku dan percakapan ke berbagai orang atau masyarakat. Terdapat enam ideologi pendidikan dasar, yaitu :

a.      Ideologi Radikal

Ideologi pendidikan radikal lebih menekankan pada kebutuhan untuk meminimalkan dan/atau melenyapkan batasan-batasan terlembaga atas perilaku personal, dan berusaha sejauh mungkin membebaskan masyarakat dari lembaga-lembaga (deinstitusionalisasi masyarakat). Sejalan dengan itu, diyakini bahwa pendekatan terbaik terhadap pendidikan adalah yang mengusahakan untuk mempercepat pembaharuan-pembaharuan humanistis yang segera dan berskala besar di dalam masyarakat, dengan cara menghapuskan sistem sekolah secara keseluruhan (O’Neill, 1981:67).

b.      Ideologi Konservatif

Paradigma ini dibangun berdasarkan keyakinan bahwa masyarakat pada dasarnya tidak bisa merencanakan perubahan atau mempengaruhi perubahan sosial, hanya Tuhan-lah yang merencanakan keadaan masyarakat dan hanya Dia yang tahu makna dibalik itu semua.

c.       Ideologi Liberal

Ideologi pendidikan liberal bertujuan untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada, dengan cara membelajarkan setiap siswa sebagaimana caranya menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupannya sendiri secara efektif. Ideologi pendidikan liberasionisme, menganggap bahwa manusia mesti mengusahakan pembaruan/perombakan segera dalam ruang lingkup besar atas tatanan politis yang ada, sebagai jalan menuju perluasan kebebasan individual serta untuk mempromosikan perwujudan potensi-potensipersonal sepenuhnya.

d.      Ideologi Pendidikan Humanis

Ideologi pendidikan humanis memfokuskan diri pada hasil afektif, belajar tentang bagaimana belajar dan belajar untuk meningkatkan kreativitas dan potensi manusia yang bertujuan membangun kemampuan siswa untuk mengenali dirinya sendiri. Ideologi Pendidikan Progesif

e.      Ideologi Pendidikan Sosialis

Nilai – nilai utama dalam ideologi pendidikan sosialis adalah kesamaan, kerja sama dan kasih sayang.

f.        Ideologi Pendidikan Demokrasi

Pendidikan yang berpedoman pada nilai – nilai demokrasi. Pendidikan demokrasi merupakan proses dan lingkungan pembelajaran yang dirancang untuk memelihara kehidupan yang demokratis, pengembangan sikap tanggung jawab dalam masyarakat, ketaatan terhadap perilaku etis dan penanaman cara pandang yang luas.

 

2.      Hakikat Pendidikan

Hakikat pendidikan itu  suatu upaya membantu manusia untuk dapat bereksisteni sesuai dengan martabanya sebagai manusia. Macam - macam hakikat pendidikan yaitu pendidikan sebagai suatu  kewajiban, mempertahankan, mengeksploitasi, transformasi, pembebasan, kebutuhan, demokrasi dan lain sebagainya. Hakikat dari pendidikan awalnya hanya kewajiban kemudian mempertahankan hingga puncaknya hakikat pendidikan adalah sebuah kebutuhan. Dari yang awalnya sebuah kewajiban kemudian menjadi sebuah kebutuhan merupakan hakikat dari pendidikan yang sesungguhnya hingga democrasy dianggap sebagai bentuk ideal dari hakikat pendidikan . Kata lain sebagainya (others) menunjukkan masih ada hakikat pendidikan lain yang dapat ditambahkan, namun bersifat lebih baik dari pada sebelumnya.

 

3.      Hakikat Matematika

Hakikat Matematika itu bagi negara kapital atau industry itu lebih cocok bahwa matematika itu sebagai ilmu (body of knowedge, science of truth, structure of truth) yang mana pembelajarannya berpusat pada guru sedangkan untuk pendidikan progresif atau demokratis atau iovatif matematika itu sebagai process of thinking (proses berpikir) dan social activities (kegiatan social) yang mana pembelajarannya berpusat pada siswa. Mengapa matematika sebagai body of knowledge? Karena matematika itu membantu kita dalam memahami dunia,  memahami pola, mengukur hubungan dan memprediksi masa depan.

 

4.      Hakikat Matematika Sekolah

a.      Matematika adalah pencarian pola dan hubungan

Sebagai pencarian pola dan hubungan, matematika dapat dianggap sebagai jaringan ide-ide yang saling terkait. Kegiatan matematika membantu siswa untuk membentuk koneksi dalam jaringan ini. Ini menyiratkan bahwa guru dapat membantu siswa belajar matematika dengan memberi mereka kesempatan untuk menemukan dan menyelidiki pola, dan untuk menggambarkan dan merekam hubungan yang mereka temukan; mendorong eksplorasi dan eksperimen dengan mencoba berbagai cara;  mendesak siswa untuk mencari konsistensi atau inkonsistensi, kesamaan atau perbedaan, untuk cara memesan atau mengatur, untuk cara menggabungkan atau memisahkan; membantu siswa untuk generalisasi dari penemuan mereka; dan membantu mereka untuk memahami dan melihat hubungan antara ide-ide matematika. (ibid, p.8)

b.      Matematika adalah kegiatan kreatif, yang melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan kreativitas dalam matematika terletak pada menghasilkan desain geometris, dalam membuat program komputer, dalam mengejar penyelidikan, dalam mempertimbangkan tak terbatas, dan dalam banyak kegiatan lainnya. Variasi dan individualitas aktivitas matematika anak-anak perlu dilayani di kelas. Guru dapat membantu siswa dengan menumbuhkan inisiatif, orisinalitas, dan pemikiran yang berbeda; merangsang rasa ingin tahu, mendorong pertanyaan, dugaan dan prediksi; menilai dan memungkinkan waktu untuk pendekatan uji coba dan penyesuaian; melihat hasil yang tidak terduga sebagai sumber untuk penyelidikan lebih lanjut; bukan sebagai kesalahan; mendorong siswa untuk membuat struktur dan desain matematika; dan membantu anak-anak untuk memeriksa hasil orang lain (ibid. p. 8-9)

c.       Matematika sebagai problem solving

.Siswa dari segala usia dapat mengembangkan keterampilan dan proses pemecahan masalah dan dapat memulai masalah matematika mereka sendiri. Oleh karena itu, guru dapat membantu siswa belajar matematika dengan: menyediakan lingkungan yang menarik dan merangsang di mana masalah matematika cenderung terjadi; menyarankan masalah itu sendiri dan membantu siswa menemukan dan menciptakan masalah mereka sendiri; membantu siswa mengidentifikasi informasi apa yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah dan bagaimana cara memperolehnya; mendorong siswa untuk berklar alasan secara logis, konsisten, bekerja secara sistematis dan mengembangkan sistem perekaman; memastikan bahwa siswa mengembangkan dan dapat menggunakan keterampilan matematika dan pengetahuan yang diperlukan untuk memecahkan masalah; membantu mereka untuk mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan alat matematika yang berbeda (ibid. p.9)

d.      Matematika adalah sarana untuk mengkomunikasikan informasi atau gagasan

Bahasa dan komunikasi grafis adalah aspek penting dari pembelajaran matematika. Dengan berbicara, merekam, dan menggambar grafik dan diagram, anak-anak dapat melihat bahwa matematika dapat digunakan untuk mengkomunikasikan ide dan informasi dan dapat memperoleh kepercayaan diri dalam menggunakannya dengan cara ini. Oleh karena itu, guru dapat membantu siswa belajar matematika dengan: menciptakan peluang untuk menggambarkan properti; membuat waktu untuk percakapan informal dan diskusi yang lebih formal tentang ide-ide matematika; mendorong siswa untuk membaca dan menulis tentang matematika; dan menilai dan mendukung beragam latar belakang budaya dan linguistik semua siswa (ibid. p.10)

 

5.      Moral Pendidikan Matematika

Secara spiritual moral dari pendidikan matematika itu hanya baik atau buruk. Baik buruknya suatu perbuatan itu tergantung dengan moral atau pandangan yang berada di masyarakat dan tergantung pada aturan agama. Selain baik atu buruk moral dari pendidikan matematika ada pragmatisme (yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat hasilnya), hierarkhies paternalistic, humanity (kemanusiaan), justice (keadilan), fredoom (kebebasan) dan lain sebagainya.

 

6.      Nilai Pendidikan Matematika

Menurut Dr. Robert S. Hartman's, nilai adalah fenomena atau konsep, dan nilai apa pun ditentukan oleh sejauh mana ia memenuhi maksud dari maknanya. Hartman (1945) menunjukkan bahwa nilai matematika memiliki empat dimensi: nilai maknanya, nilai keunikannya, nilai tujuannya, dan nilai fungsinya. Selanjutnya, ia menyarankan bahwa keempat "Dimensi Nilai" ini selalu disebut sebagai konsep berikut: nilai intrinsik, nilai ekstrinsik, dan nilai sistemik. Esensi intrinsik dan melekat telanjang dari objek matematika adalah intensitas kedekatan yang lebih besar dan berkembang. Objek matematika benar-benar independen baik dari kesadaran atau hal-hal lain; sesuatu untuk dirinya sendiri. Dalam dan untuk dirinya sendiri milik Absolute saja, objek matematika dapat dianggap sebagai hasil yang dikembangkan dari hakikatnya dan sebagai sistem hubungan internal di mana ia independen dari hubungan eksternal.

 

7.      Hakikat Siswa

Siswa dapat matang pada tingkat yang berbeda dan mengalami pertumbuhan yang cepat dan tidak teratur, dengan perubahan tubuh yang menyebabkan gerakan canggung dan tidak terkoordinasi. Dalam hal aspek emosional dan psikologis, mereka rentan dan sadar diri, dan sering mengalami perubahan suasana hati yang tidak dapat diprediksi. Sementara dalam kasus moral, mereka idealis dan ingin memiliki dampak dengan membuat dunia lebih baik.

Sebagian besar guru selalu memperhatikan sifat kemampuan siswa. Kita juga perlu memiliki jawaban bagaimana memfasilitasi anak-anak miskin dan rendah kemampuan dalam memahami, belajar dan sekolah. Intelektual sangat penting untuk mewujudkan kemampuan mental; sementara, pekerjaan mereka tergantung pada motivasi. Tampaknya motivasi adalah faktor penting bagi siswa untuk melakukan kemampuan mereka. Secara umum, beberapa guru juga sadar bahwa karakter proses belajar mengajar merupakan faktor kuat yang mempengaruhi kemampuan siswa. Kita perlu menganggap murid sebagai pusat kekhawatiran kita jika penyediaan kita untuk semua murid harus sesuai dan efektif; beberapa aspek pengajaran yang sesuai bagi siswa mungkin: mencocokkan keadaan pengetahuan mereka, mengidentifikasi dan menanggapi kesulitan khusus mereka, memperluas mereka untuk mengembangkan potensi mereka dalam matematika, memberikan beberapa kesinambungan pengajaran dengan minat yang ditunjukkan dalam kemajuan, mengembangkan kesadaran diri mereka sebagai pelajar menggunakan guru sebagai sumber daya, dan memberikan umpan balik rutin tentang kemajuan (Ashley, 1988). Mereka yang mengajar matematika harus memperhitungkan variasi besar yang ada di antara murid baik dalam tingkat pembelajaran mereka dan juga dalam tingkat pencapaian mereka pada usia tertentu (Cockroft Report, 1982, para. 801).

 

8.      Hakikat Kemampuan Siswa

Macam – macam kemampuan siswa yaitu kemampuan siwa sebagai bakat atau potensi diri, usaha, kebutuhan, kompetensi, budaya, kontekstual dan lain sebagainya. Etnomatematika itu berasal dari dasar bahwa kemampuan siswa itu sebagai budaya.

 

9.      Tujuan Pendidikan Matematika

Secara filosofis, tujuan pendidikan matematika membentang dari gerakan kembali ke dasar pengajaran aritmatika, sertifikasi, transfer pengetahuan, kreativitas, hingga pengembangan pemahaman siswa. Pada suatu ketika, seorang guru matematika menyampaikan gagasannya bahwa tujuan dari pelajaran matematikanya adalah untuk menggunakan matematika yang lebih baik, terminologi yang lebih maju dan untuk memahami konsep matematika tertentu. Guru lain mengklaim bahwa tujuan dari pelajaran matematikanya adalah untuk mencapai gagasan yang dinyatakan dalam silabi. Sementara yang lain mungkin menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk mendapatkan pengetahuan matematika yang sebenarnya. Jadi tujuan pendidikan matematika harus memungkinkan siswa untuk mewujudkan, memahami, menilai, memanfaatkan dan kadang-kadang juga melakukan penerapan matematika di masyarakat, khususnya untuk situasi yang penting bagi kehidupan pribadi, sosial dan profesional mereka (Niss, 1983, di Ernest, 1991). Dengan demikian, kurikulum harus didasarkan pada proyek untuk membantu pengembangan diri dan kemandirian murid; situasi kehidupan peserta didik adalah titik awal perencanaan pendidikan; akuisisi pengetahuan adalah bagian dari proyek; dan perubahan sosial adalah tujuan utama kurikulum (Ernest, 1991).

 

10.  Hakikat Belajar

Belajar mengacu pada perubahan perilaku individu sebagai akibat dari proses pengalaman baik yang dialami ataupun yang sengaja dirancang. Ciri-ciri belajar adalah adanya perubahan perilaku. Perubahan perilaku tersebut merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungan, serta perilaku tersebut bersifat relatif menetap. Pada zaman dahulu beljar itu yang penting kerja keras, Latihan dan hafalan. Namun seiring berkembangnya zaman belajar itu berpikir dan praktik; eksplorasi; diskusi, autonomi dan diri sendiri.

 

11.  Hakikat Mengajar

Mengajar adalah suatu kegiatan yang dapat memunculkan perilaku belajar siswa. Seorang guru harus aktif menyikapi siswanya, mengajar bukan sebatas menerangkan materi saja tanpa ditindaklanjuti. Ekspektasi yang paling penting ialah ketika seorang siswa terangsang pikirannya untuk belajar, dan pada saat itu kehadiiran seorang pengajar mampu menjadi fasilitator yang baik, sehingga berkembanglah kemampuan para siswa tersebut. Macam – macam hakikat mengajar yaitu mengajar sebagai transfer of knowledge (menyalurkan ilmu dari orang yang sudah berpengalaman atau tahu ke yang belum berpengalaman atau belum tahu) , motivasi eksternal, motivasi internal, kontruktivisme, diskusi, penyelidikan, pengembangan, memfasilitasi dan ekspositori (memberikan penjelasan). Transfer of knowledge itu seiring dengan motivasi eksternal, motivasi internal itu hal baru yang sesuai dengan teori kontruktivisme dengan menggunakan metode diskusi, investigasi, development, facilitating dan ekspository.

 

12.   Teori Mengajar Matematika

Mengajar matematika awalnya dilakukan secara ekspositori yang mana pembelajarannya berpusat pada guru. Ekspositori itu menganggap bahwa siswa itu masih kosong akan ilmu. Pendekatan tersebut membuat siswa cenderung kurang kreatif. Hingga kemudian muncul problem solving, memorize, drill, discussion, praktical work, development dan diakhiri dengan facilitating.  Pada facilitating (memfasilitasi) guru di sini berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar siswa.

 

13.  Hakikat Sumber Belar Mengajar

Ernest (1991) menyarankan bahwa karena pembelajaran harus aktif, bervariasi, terlibat secara sosial dan mengatur diri, teori sumber daya memiliki tiga komponen utama : penyediaan berbagai sumber daya praktis untuk memfasilitasi pendekatan pengajaran yang bervariasi dan aktif;  penyediaan materi otentik, seperti koran, statistik resmi, dan sebagainya untuk studi dan investigasi yang relevan secara sosial dan terlibat secara sosial; dan (3) fasilitasi pengendalian dan akses mandiri siswa terhadap sumber belajar. Pada zaman dahulu sumber belajar hanya ada papan tulis dan kapur. Seiring berkembangnya waktu mulailah ada alat peraga, alat peraga visual, berbagai macam sumber belajar, dan lingkungan social seperti saat ini.

 

14.  Hakikat Penilaian

Hakikat penilaian dalam pendidikan itu ada Ujian Nasional yang mana sekarang sudah tidak ada lagi karena yang mengetahui kemampuan siswa itu gurunya sendiri bukan nasional, portofolio, social (penilaian sikap) dan kontekstual (penerapan dalam kehidupan sehari – hari).

 

15.  Hakikat Masyarakat

Masyarakat merupakan suatu kelompok manusia yang hidup bersama disuatu wilayah dengan tatacara berfikir dan bertindak yang (relatif) semua yang membuat warga masyarakat itu menyadari  diri mereka sebagai satu kesatuan atau kelompok. Dalam masyarakat berpedoman pada bhineka tunggal ika. Hakikat masyarakat itu  ada perbedaan (diversity) , monokultur, desentralisasi, kompetensi, banyak solusi, heterogeny (kebinekaan), modal social (kapabilitas yang muncul dari kepercayaan umum di dalam sebuah masyarakat ) , dan budaya yang ada di masyarakat setempat.

 

16.  Hakikat Kurikulum

Pendidikan itu tidak terlepas dari yang Namanya kurikulum. Kurikulum merupakan perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Kurikulum itu hakikatnya ada beberapa yaitu instrument kurikulum, kurikulum berbasis subjek, kurikulum terintegrasi, pengetahuan berdasarkan kurikulum, kurikulum berbasis kompeten, kurikulum individu, kurikulum interaktif dan kurikulum berbasis ICT.

 

17.  Hakikat Siswa Belajar Matematika

Hakikat siswa dalam belajar matematika itu ada secara individu, kompetisi, motivasi, kesiapan, scaffolding, kolaboratif (kerja sama), kontruksi, kontekstual dan membudidayakan. Dalam belajar matematika lebih baik menggunakan kerja sama.

 

18.  Hakikat Berpikir Matematika

Berpikir matematis adalah kemampuan untuk berpikir secara rasional, mengkaji fenomena yang ada dan menyusunnya secara prosedural matematika dan membangun kerangka berpikir sebagai kepercayaan diri menyelesaikan setiap masalah. Hakikat berpikir matematika itu subjektif, objektif, memproduksi, merefleksi, mengkritisi, mengkontruksi, kegiatan social, sikap, konten, cara, konjektur dan perwujudan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMPLEMENTASI FILSAFAT DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

A Priori Sintetik dan Estetika Transendental

LEARNING THEORY (TEORI BELAJAR)